Catatan Lydia

Catatan Lydia
Blog ini didedikasikan untuk anak-anakku tercinta, Abhi Sachi dan Samy yang mewarnai hidupku dengan kebahagiaan. Tulisan-tulisan di blog ini menjadi saksi, betapa berartinya kalian untuk mama. Kelak ketika kalian besar nanti, memori indah yang tertulis di blog ini akan selalu kita kenang bersama. I love U Nak..


Kamis, Februari 04, 2021

Kisah Si Burung Gagak

Ini kisah lama. Kisahnya sederhana saja namun nyata terjadi, pengalaman sendiri. Ketika manusia mencoba melakukan pembenaran terhadap sesuatu yang kurang tepat, lantas menyuarakan berbagai dalih dan alasan. Kali ini, aku kena batunya. Diingatkan langsung saat itu juga.

------

Hari itu jadwalku padat. Pagi hari dimulai mengantar Samy ke Hoikuen, kemudian ada beberapa kelas perkuliahan, dimulai pukul 9 pagi dan direncanakan selesai pukul 14.30. Lanjut sore pukul 15.00 menjemput Sachi dari Youchien, membawanya ke apartemen, menanti Kakak Abhi pulang dari Gakudo, lalu kembali menjemput Samy, memasak makan malam dan menanti suami pulang. Pagi itu aku tak sarapan. Sejak kecil hampir tak pernah sarapan, ditambah lagi terlalu banyak hal yang perlu diselesaikan emak tiga anak, dua di antaranya balita, sejak pagi menyingsing. Waktu dan pikiran tersita dengan task-task yang harus aku jalani setiap harinya. Sarapan tak lagi terpikirkan, apalagi perut juga belum demo minta diisi. Resiko seorang mamasiswi di negeri orang.

Setelah berbagai aktivitas perkuliahan dan diskusi dengan Para Sensei serta teman-teman sekelas, lagi-lagi aku melewatkan jam makan siang. Kupikir tak masalah menundanya, toh aku bisa makan di rumah setelah menjemput Sachi pukul 15.00. Waktu menunjukkan pukul 14.30, kelas selesai. Tersisa 30 menit saja untuk bisa tiba di sekolah Sachi. Kupercepat langkahku setengah berlari menuju stasiun Demachiyanagi. Aku tak ingin Sachi dan Sensei menungguku di sekolah. Bukan budayanya pula untuk terlambat disini, termasuk menjemput anak sekolah. Pukul 14.40 tiba di stasiun Demachiyanagi, kereta sudah menanti. Enaknya disini jadwal kereta selalu tepat waktu. Tak akan meleset walau 1 menit. Sehingga urusan perjalanan sangat bisa diestimasi dan direncanakan. Kereta berangkat dan tiba tepat waktu di stasiun Ichijoji pukul 14.50. Tersisa 10 menit untuk berjalan kaki dari stasiun Ichijoji menuju sekolah Sachi. Panas. Jauh. Aku kembali berlari-lari kecil. Perut mulai keroncongan, cacing di sana mulai berontak karena belum diisi sedari pagi. Alhamdulillah tepat waktu menjemput Sachi. Di Jepang aku selalu merasa berkejaran dengan waktu. Rasanya detik demi detik berlangsung sangat cepat. Saya selalu merasa kekurangan waktu.

Sachi tengah bermain di playground outdoor sekolah, ketika ia melihatku tiba. Tersenyum ia, lantas setengah berlari ke arahku. Hayyyuuu sayang, kemonn kita pulang. Kami berjalan santai berdua, menuju stasiun Ichijoji kembali. Menunggu kereta tiba, naik kemudian turun di stasiun selanjutnya, stasiun Shugakuin. Waktu menunjukkan jam 15.30 ketika kami tiba di stasiun Shugakuin. Apartemen kami sendiri bisa dibilang hampir berseberangan dengan stasiun ini. Sangat dekat, beda beberapa bangunan saja. Ah, masih ada 1 jam 30 menit sebelum menjemput Samy di sekolah. Lumayan bisa mampir dulu, batinku. Tepat di samping stasiun Shugakuin terdapat supermarket Fresco. Aku mengajak Sachi mampir sebentar untuk membeli jajanan pengganjal dan sayur buat dimasak makan malam nanti. Tiba di counter jajanan, cacing berteriak. Aku lantas membeli 2 buah risol kentang sayur, satu untukku dan satu untuk Sachi. Keluar dari Fresco, kami bergandengan menyeberang jalan. Setibanya di ujung jalan, eh kok lemes ya. Laparrr sangat rasanya. Aku lantas mengeluarkan risol yang tadi kubeli. Makan ah, sambil jalan menuju apartemen. Bukankah namanya dua tiga pulau terlampaui. Perut terganjal, sampe rumah bisa lanjut melakukan aktivitas lain. Cerdas kan hahaha.

Kresek.. kresek.. Aku membuka plastik jajanan. Mengambil sepotong risol untukku dan memberikan satu lagi untuk Sachi.

Sachi: “Sachi nanti saja mah, di rumah. Tadi udah makan snack di sekolah.” 

Mama: “Oke. Mama simpan lagi ya punya Sachi.”

Kumasukkan risol Sachi ke plastik. Tangan kiriku membawa belanjaan sambil menggenggam tangan Sachi, tangan kananku memegang risol nikmat tadi. Namanya juga lapar, semua terasa maknyuss. Enyaak. Sachi terlihat  menatapku yang sibuk mengunyah makanan.

Sachi: “Eh Mama, bukannya makan sambil berdiri itu tidak baik ya Ma?” penasaran ia menanti jawabku. Sebentar aku tertegun, mendengarnya mengingatkan. Biasanya itu bagianku.

Mama: “Iya sih Chi, memang bener Sachi. Sebaiknya makan jangan sambil berdiri. Tapi gapapa lah ya, Chi. Sekali-kali. Mama belum makan dari pagi. Laper bangettt Mama, Chi.”

Sachi: “Itu rumah kita udah dekat Ma.” Iya juga, memang sejengkal lagi kami tiba di apartemen. Tapi siapa yang bisa menahan godaan risol gede seukuran telapak tangan dan tampak sangat nikmat ini di tengah demo para cacing di perut.

Mama: “Hehe laperrr.” Si Mama nan ngeyel lanjut menguyah sambil jalan.


Tak lama kemudian.

Kwaaak.. kwaaaak.. kwaaaak.. Seekor burung gagak hitam tiba tiba muncul begitu saja dengan sangat cepat di hadapan kami, entah darimana datangnya. Secepat kilat si gagak menyambar risol yang hampir masuk ke mulutku. Persis di depan wajahku. Aku kaget dan reflek berteriak menjerit. Mundur beberapa langkah. Nasib di risol kini sudah berpindah. Sebagian dibawa si Gagak terbang tinggi, sebagian lagi jatuh ke aspal.

Sachi: “Nah kan Mama. Dibilangin juga apa. Makan jangan sambil jalan.” Sachi tertawa.

Mama: “Iya ya Chi. Jadi aja ditegur sama Allah lewat burung Gagak ya. Boro-boro kenyang, hilang deh sekarang jatah mama. Maapin ya ga dengerin Sachi tadi.”

Sachi: “Mama makan punya Sachi aja. Masih ada satu kan.” 

Ahhh peluk anak baik mama.

Si gagak hitam datang begitu saja, di luar dugaanku. Pembenaranku memakan makanan tidak pada tempatnya hari ini, diingatkan langsung lewat si Burung Gagak. Heiii bukankah aku sudah melakukan banyak hal sedari pagi, aku bahkan melewatkan kebutuhan pribadiku demi menjalankan semuanya. Sekadar makan sepotong saja tentu tak mengapa bukan. Begitu kurang lebih pembenaranku. Apakah ini teguran langsung dariNya terhadap hamba yang luput mendengarkan. Wallahualam. Hadits untuk tidak makan dan minum sambil berdiri, berbeda pendapat ulama menyikapinya. Yang jelas kuakui, malu rasanya telah bersikap dan mencontohkan yang kurang tepat di depan anakku hari itu.

Cerita ini membekas, terutama bagi anak-anak. Kini ketika kami abai, tak mengindahkan hal benar yang sudah diingatkan maka kisah ini kembali bergulir. Anak-anak tertawa, mentertawakan kelakuan emaknya. Namun yang lebih penting, dengan cepat anak-anak kemudian belajar bagaimana mendengarkan. Dan tentu aku sebagai objek cerita, lalu tersipu.

Ah Gagak.. kenapa harus aku sih. Kan lapeer aku tuh hahaha.

Ampunn Gagak.. gak lagi-lagi deh.

 

Kyoto, 2014. Suatu hari di depan stasiun Shugakuin.

Rabu, Desember 20, 2017

Hamil dengan Rubella

Setiap kehamilan seorang ibu itu unik dan punya ceritanya masing-masing. Antara kehamilan pertama, kedua, dan selanjutnya pun tak selalu sama. Kita tak pernah tau akan seperti apa kisah kehamilan kita. Jalani, hadapi, syukuri. Seperti kisahku kali ini. Jika dua kehamilan sebelumnya berjalan tanpa kendala, maka di kehamilan ketiga ini, aku dan suami berkali-kali diuji.
-------------------
Si bungsu sekarang hampir berusia 5 tahun. Aktif berlarian kesana kemari. Celotehnya selalu ramai, teriakannya khas membahana sekaligus yang selalu bikin rindu. Si Bungsu yang selalu jadi pelipur lara, penambah semangat dan meramaikan keluarga ini. Siapa sangka perjalanan sembilan bulan menanti kelahirannya penuh dengan perjuangan, doa, rasa syukur dan air mata. And this is the story about him, Juang Samudra Bintang...

Kilas balik ke tahun 2012-2013.

Juni 2012, menjelang ulang tahun Sachi kedua
Aku dan suami tersenyum bahagia siang itu memandang garis dua pada alat tes yang kupegang. Aku hamil lagi, ketiga kalinya. Bahagia sekali membayangkan bagaimana respon Abhi dan Sachi mendengar kabar ini. Membayangkan akan ramainya rumah kami dengan kehadiran satu lagi malaikat kecil. Sedikit galau karena Sachi baru akan berusia dua tahun dan belum berhasil disapih. Laki-laki atau perempuan ya? Ah sama saja. Toh kami sudah memiliki keduanya, anak lelaki dan perempuan. Apapun jenis kelamin anak ketiga kami nanti, tentu tidak menjadi masalah. Yang penting ia terlahir sehat..

Awal Juli 2012, usia kandungan 6 minggu, Perlindungan pertamaNya
Bleeding. Banyak. Dokter yang pertama mengatakan ini sudah abortus spontan dan harus kuretase. Sedih. Denial membuatku memaksa mengunjungi dokter kedua di hari yang sama. Dokter kedua menyatakan kondisi bayi belum terlihat jelas. Ada kemungkinan bisa bertahan, bisa juga sebaliknya. Dokter menyarankan aku tidak usah berfikir buruk dan menunggu hingga bulan depan. Aku lantas memutuskan bedrest, berharap bahwa Sang Kuasa mampu mempercayakan kami untuk menjaganya. Dua hari pertama, bleeding masih ada, cukup banyak. Setelah hari ketiga, mulai berkurang. Aku kembali berharap. Sungguh hitungan hari dalam doa dan kepasrahan. Dua minggu pasca bedrest, kunjungan Dokter menegaskan semuanya. Anakku ada, ia bertahan. Alhamdulillah ya Rabb. Sehat, dalam kondisi normal sesuai usianya. Perlindungan pertamaNya. Bismillah, kuat terus, Nak..

Agustus 2012, Usia kandungan 3 bulan, Perlindungan keduaNya
Nyaris celaka. Di atas jembatan layang, di jalur tengah, tiba-tiba rok panjang yang kukenakan tersangkut ke dalam jeruji motor yang dikendarai suami dalam perjalanan ke rumah sakit siang itu. Motor bergetar. Suamiku berusaha menghentikan motor seaman mungkin agar aku tidak terjatuh. Aku berupaya berpegangan erat pada motor sekaligus sesekali melambaikan tangan agar kendaraan di belakang memperlambat laju kendaraan mereka. Tanganku yang satu menarik sekuat tenaga rok kainku agar tidak terus tertarik dengan berputarnya roda motor yang belum juga berhenti. Motor melambat. Hening. Akhirnya berhenti melaju. Posisi agak di tengah jalan layang. Beberapa pengendara motor lantas berhenti, membantu kami. Motor digotong perlahan ke pinggir. Aku mengikuti karena rok masih menempel di jeruji. Pengendara motor tersebut mencari gunting. Sebagian rok ku terpaksa harus digunting agar roda bisa diputar balik. Tak lama belitan rok pada jeruji motor terlepas. Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih buat Bapak-bapak yang sudah membantu. Aku dan suami saling menatap di pinggir jalan layang, meneguk sebotol minuman untuk mendinginkan perasaan. Perlindungan keduaNya.

September 2012, Usia kandungan 4-5 bulan, Perlindungan ketigaNya
Virus itu bernama Rubella. Hari itu aku merasa tidak enak badan. Kepalaku terasa sangat-sangat berat dan tak menunggu lama mulai bermunculan bercak bercak merah di tubuhku. Bertambah banyak. Parah. Seluruh tubuhku dipenuhi bercak merah dan terasa sangat gatal. Ada sesuatu yang tidak beres. Rubella. Tiba-tiba aku merinding membayangkan virus ini. Rubella adalah penyakit yang paling ditakuti ibu hamil. Biasanya hanya bergejala ringan pada anak anak atau orang dewasa sehat dan sembuh dengan sendirinya. Sebaliknya, bisa berdampak sangat parah pada ibu hamil. Gangguan kongenital pada otak, jantung, pendengaran dan penglihatan pada janin banyak terjadi pada ibu hamil yang terinfeksi virus ini. Astagfirullohaladzim... kutepis pikiran buruk itu. Segera aku membuat janji bertemu dokter kandungan. Sambil menunggu jam konsul, aku langsung berinisiatif memeriksakan IgG dan IgM Rubella di sebuah laboratorium. Beberapa jam kemudian, amplop hasil tes itu sudah ditanganku. Tak berani membukanya. Takut.

Dokter berjalan dari meja periksa, baru selesai melakukan usg. Ia membuka amplop hasil test yang kuserahkan. Datar wajahnya membaca satu demi satu angka yang tertera disana. Aku positif Rubella. Konstanta pada IgM Reaktif. Di atas batas normal. Dokter berusaha membesarkan hatiku. Menjelaskan bahwa kelainan kongenital pada janin sebagai akibat virus rubella paling rawan terjadi di usia trimester 1. Sedangkan untuk usia trimester 2 seperti aku, resiko semakin menurun, tanpa menampik bahwa kemungkinan itu tetap besar karena walau fisik janin sudah terbentuk lebih sempurna, tetapi beberapa organ baru berkembang fungsinya di trimester 2 ini. Namun ia meyakinkanku bahwa masih ada harapan itu tidak terjadi. Menjalani kehamilan dengan tenang dan bahagia tentu lebih baik untuk pertumbuhan janin. Aku bertanya, adakah yang bisa dilakukan saat ini, setidaknya untuk mengurangi resiko tersebut. Tidak ada. Vaksin antirubella ada tapi percuma. Vaksin hanya bisa jika dilakukan sebelum hamil. Obat antivirus mungkin saja ada, tetapi toh sudah terlanjur terinfeksi. Tidak akan mengurangi efek cacat janin jikalau itu terjadi. Hanya doa yang bisa dilakukan saat ini. Aku terpukul.

Menangis. Merenung. Menatap Abhi dan Sachi adalah obat dan penyemangatku. Aku tak ingin menyerah. Denial lagi? Mungkin. Entah sudah berapa banyak dokter kandungan kudatangi. Yang jam terbangnya tahunan, yang ternama, yang pegang subspesialis A, B, C, sudah semua kudatangi. Bermacam varian obat diberikan, tidak jauh dari vitamin. Ingin kudengar salah satu dari mereka berkata, ini bukan Rubella atau meyakinkan aku bahwa tidak akan berdampak apa-apa pada janin di dalam rahimku. Tapi kesimpulannya tetap sama. Tidak bisa dipastikan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa memohon pertolonganNya. Aku pasrah. Akhirnya. Jikalau ini kehendakNya, aku akan berusaha menikmati dengan bahagia. Apapun itu diterima. Pasrah dan berdoa. Menanti masa kandungan 40 minggu terasa begitu lama. Ternyata begini rasanya ketika menjalani kehamilan dan bermasalah. Dua kali tanpa kendala, hamil terasa mudah. Kini tiap bulan aku harus bolak-balik ke lab, rutin cek darah untuk memonitor kadar IgM dan IgG. Rutin control DSOG. Karena Rubella pula aku lantas aktif mencari tahu perkembangan penyakit ini dari media-media online kredibel. Lalu aku juga bergabung dengan komunitas online untuk orang tua bayi-bayi terlahir rubella. Mendengarkan saran mereka yang pernah melalui hal yang sama. Juga mendengarkan keluh kesah para ibu yang bernasib serupa. Sangat membantu. Aku tak sendiri.

Bulan 5: Hasil cek darah
IgG Anti-Rubella NON-REAKTIF 3.61; threshold <10 IU/mL
IgM Anti-Rubella REAKTIF 3.38; threshold < 0.8
Virus Rubella masih aktif di tubuhku. Belum terbentuk antibodi IgG pertanda serangan virus masih berlangsung.

Bulan 6: Hasil cek darah
IgG Anti-Rubella REAKTIF 190.1; threshold <10 IU/mL
IgM Anti-Rubella REAKTIF 2.88; threshold < 0.8
Serangan Virus Rubella masih berlangsung namun mulai mereda, terlihat antibodi IgG mulai terbentuk

Desember 2012, usia kandungan 7 bulan, saatnya USG 4D
Hasil cek darah
IgG Anti-Rubella REAKTIF 654, threshold < 10 IU/mL
IgM Anti-Rubella BORDERLINE 1.16, threshold < 0.8
Serangan Virus Rubella berada di ambang batas. Tidak Positif, juga tidak Negatif. Sementara antibodi IgG semakin tinggi. Bisa dikatakan virus hampir berhasil dikalahkan.

Masuk bulan ke tujuh. Aku memastikan kondisi bayi dengan USG 4 dimensi pada DSOG subfetomaternal. Alhamdulillah, kondisi bayi terlihat baik. Setidaknya aku sedikit lega. Bersyukur alhamdulillah. Namun USG 4D hanya bisa memastikan kondisi fisik bayi, tidak dengan fungsinya. Fungsi mata dan fungsi telinga, hanya bisa dipastikan setelah bayi lahir. Begitu pun fungsi otak, akan terlihat seiring perkembangan usia. Nanti pun setelah lahir, bayi harus rutin control untuk memastikan fungsi organ-organ ini. Begitu dokter menjelaskan. Lega boleh, tetapi tentu harus tetap waspada.

Januari 2013, usia kandungan 8 bulan, menyiapkan mental menjelang lahir
Hasil cek darah
IgG Anti-Rubella REAKTIF >500, threshold < 10 IU/mL
IgM Anti-Rubella NON-REAKTIF 0,644, threshold < 0.8
Akhirnya di bulan ke delapan, aku negatif Rubella. Serangan virus sudah mereda, dibawah ambang batas. Sekarang IgG menunjukkan kekebalan tubuh terhadap Rubella sudah stabil di atas 500 IU/mL

Aku sudah lebih rileks. Tiada putus berdoa. IgM sudah non reaktif. Artinya sudah tidak ada virus aktif atau dalam kondisi yang tidak lagi membahayakan dan juga kekebalan tubuh sudah terbentuk secara alami. Dari sharing di group disampaikan beberapa kondisi kelahiran bayi Rubella yang perlu diperhatikan dan diantisipasi. Bayi mungkin lahir dengan bercak merah seperti lazimnya orang yang sedang terkena Rubella, bisa juga tidak. Juga akan ada banyak tes pemeriksaan (skrining) pasca kelahiran bayi nanti. Jantung, Otak, Mata dan Telinga utamanya. Jadi orang tua sudah harus siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi pasca lahir. Bismillah, kami siap.

Februari 2013, usia kandungan 9 bulan menjelang lahiran
Hasil cek darah
IgG Anti-Rubella REAKTIF >500, threshold < 10 IU/mL
IgM Anti-Rubella NON-REAKTIF 0,584, threshold < 0.8
Bulan kelahiran. Antibodi telah stabil di angka >500 IU/mL dan virus terus turun dari angka bulan lalu. Saatnya tidak berfokus pada angka lagi. Kami harus fokus pada kelahirannya nanti.

Tanggal 15 hari Jumat, hasil control DSOG pagi itu bilang aku sudah bukaan dua. Aku ringan saja, tidak berasa. Dari kehamilan sebelumnya, biasanya dari bukaan dua menuju tiga itu rentang waktunya lama. Jadi masih pede ke kantor hari itu untuk membereskan surat cuti dan mengurus beberapa berkas lainnya. Sengaja belum mengajukan cuti melahirkan. Mepet. Supaya bisa lebih lama bersama bayi nantinya. Rekan kantor yang panik sewaktu tahu si ibu hamil bukaan dua masih jalan-jalan ke kantor. Hehehe. Sepulang kantor, aku menyiapkan keperluan anak-anakku Abhi Sachi, agar ketika aku di rumah sakit, mereka aman dititipkan bersama kedua mertuaku. Malam itu kontraksi konsisten terasa.

Tanggal 16 hari Sabtu. Pagi membangunkan anak-anak. Memberitahu mereka bahwa adik bayi kemungkinan lahir hari ini. Jadi mereka akan bersama kakek dan nenek selama mama di rumah sakit. Abhi dan Sachi antusias. Berebut mereka menebak adiknya nanti mirip siapa. Menyiapkan mandi dan sarapan mereka di tengah rasa sakit kontraksi. Mereka makan dengan lahap. Sebelum berangkat ke rumah sakit, kami berfoto terlebih dahulu bersama perut besar mama. Kapan lagi ya kan. Hahaha. Tertawa bersama mereka sungguh obat mujarab, lupa semua kekhawatiran yang ada menjelang persalinan. Setelah anak anak diantarkan ke rumah kakek nenek, saya dan suami lanjut ke rumah sakit. Disana, langsung masuk IGD. Diperiksa, bukaan 4. Karena ini lahiran ketiga, estimasi dokter akan cepat. Dari IGD, aku langsung dibawa menggunakan kursi roda ke ruang persalinan. Masih bisa tertawa dan makan baso tahu yang dibelikan suamiku. Biar ada tambahan tenaga katanya. Pak Suami yang siaga. Tiga kali melahirkan, Mas Adi selalu ada menemani. Alhamdulillah. Tak lama frekuensi kontraksi semakin cepat kan kuat. Mulai tidak bisa bicara, air mata menetes setiap kali kontraksi terjadi. Sakit. Walau ini ketiga kalinya, rasanya tetap sama. Sakit. Mas Adi mengusap punggungku. Mencoba berbisik,” Tahan ya Ma. Sabar. Ini anak terakhir deh.” Ingin aku tertawa tapi tak mampu. Tak lama Bidan menghampiri, memeriksa ulang. Ia kaget, karena bukaan berjalan sangat cepat. Tidak sampai setengah jam sejak tiba di rumah sakit, bukaan sudah masuk tujuh. Segera Bu Bidan menghubungi DSOG yang akan membantu persalinanku saat itu. Dokter meluncur. Semoga tiba tepat waktu. Sepuluh menit berlalu, bukaanku sudah lengkap. DSOG terjebak macet. Akhirnya pasrah sudah. Persalinanku dibantu DSOG yang tengah praktek hari itu. Dr. Rustama. Sebaik-baik rencana, Allah yang menentukan. Walau berencana dibantu dokter perempuan, apa daya. Dokter siapapun kini tak masalah. Yang terutama adalah anakku.

Samy lahir. Hanya dua kali mengejan saja. Luar biasa, benar-benar lancar persalinan ketiga ini. Mendengarnya menangis kencang, aku terharu. Bayi yang kuperjuangkan sembilan bulan lamanya. Bayi yang kuat bertahan ditengah gempuran cobaan. Kutatap ia. Sehat. Bersih. Tidak nampak satu pun bercak ditubuhnya. Alhamdulillah. Lagi-lagi ujian ini ia lewati dengan baik. Bayiku dibersihkan dan diperiksa DSA. Lalu diberikan kepadaku untuk dilakukan inisiasi menyusu dini. Kutatap bola matanya. Indah. Semoga mata indah itu berfungsi baik ya Nak. Oh ya...  Juang Samudra Bintang, itu nama yang kami siapkan untuknya. Untuk mengingat betapa ia berhasil melewati banyak cobaan. Perjuangan tiada henti untuk bertahan. Anakku yang tangguh. Tak lama, Samy diambil untuk diperiksa. Ayok Samy.. adek pasti bisa. Cuma itu yang bisa aku bisikkan di telinganya. Semoga Ia mendengarnya. Anakku yang kuat, kamu pasti bisa melewati rangkaian tes yang panjang ini, kita pasti bisa hasilnya pasti bagus. Allah melindungimu dan kami bersamamu. Doaku.

Dua hari di rumah sakit. Kami diperbolehkan pulang. Sebelumnya dokter mengabarkan hasil pemeriksaan terhadap fungsi Jantung, Otak, Mata dan Telinga. Aku cemas. Keringat dingin menunggu dokter membacakan hasilnya. Membuka lembaran kertas di depannya, DSA tersenyum. Aku bisa menduga hasilnya. Alhamdulillah. Aku ingin bersujud bahagia. Lagi-lagi pertolonganNya bekerja. Jantung, mata dan otak dalam kondisi baik. Normal. Kecuali telinga. Deg.

Tes Telinga Samy menunjukkan hasil REFER. Artinya harus diulang, karena REFER tidak memberikan hasil Positif maupun Negatif. DSA menyemangatiku. Dengan ijinNya, insya Allah semua akan baik-baik saja. Kami hanya harus bersabar dan menstimulasinya di rumah sampai tiba waktunya Samy bisa menjalani tes ulang satu bulan kemudian. Selama di rumah, kekhawatiran itu perlahan sirna. Samy merespon untuk bunyi-bunyi mengagetkan seperti suara pintu tertutup keras. Tangannya terangkat, setiap kali kaget. Namun untuk bisikan, responnya terkadang ada terkadang tidak. Di usia 1 bulan, agar lebih yakin, lantas kami mengulang hasil OAE test. PASS. Telinga kiri dan kanan. Alhamdulillaah terima kasih ya Allah atas pertolonganMu kepada Samy. Sembilan bulan menjadi perjalanan yang luar biasa.

Sungguh, tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah semata.

Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »

“Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah satu tabungan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa billah’” (HR. Bukhari no.4205, Muslim no.7037)


Tulisan ini didedikasikan bagi para orang tua, khususnya Ibu hamil dengan Rubella, jangan pernah putus asa. Rajin control dan monitor kadar IgG dan IgM Rubella. Upayakan lakukan USD4D. Cari dukungan positif dari keluarga terdekat dan komunitas. Panjatkan doa terbaikmu. Kemudian pasrahkan hasilnya pada Dia yang Maha Berkehendak.

Khusus untuk Ibu-ibu yang baru menikah dan berencana punya anak dalam waktu dekat, sekiranya memungkinkan, lakukan vaksinasi rubella untuk melindungi diri dan janin dari terpaparnya virus ini.

Update1: Mulai 2017 pemberian Vaksin Rubella gencar dikampanyekan oleh Pemerintah. Pro-Kontra terus mewarnai program pemberian vaksin ini bagi anak-anak usia sekolah. Sebagai seorang ibu yang mengalami betapa lelahnya menjalani sembilan bulan kehamilan dengan Rubella, saya sangat sangat mendukung program ini. Saya mendukung penuh program ini demi putusnya rantai penyebaran Rubella. Tanpa diimunisasi, mungkin seorang anak yang terinfeksi Rubella tidak akan mengalami gejala yang berat dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari saja. Namun, tanpa disadari ia berpotensi membawa virus tersebut kepada Ibunya, keluarganya, tetangganya yang sedang hamil. Lantas berapa banyak bayi Rubella yang beresiko terlahir dengan kelainan kongenital. Selain itu, anak perempuan yang divaksin Rubella, setidaknya mampu mengurangi beratnya efek Rubella jikalau di kemudian hari ia terpapar Rubella, terlebih dalam kondisi hamil. Wallahu’alam. Semoga Allah melindungi kita semua.

Update2: Hasil tes darah di usia 4 tahun 6 bulan
IgG Anti-Rubella Negatif
IgM Anti-Rubella Negatif
Test Telinga PASS
Cek fisik Normal
Alhamdulillah.
Jejak Rubella tak lagi bersisa.

Jumat, September 04, 2015

Resep Pempek ala Lily

Kali ini mau share resep pempek ala dapur lily. Sudah lama ingin menuliskan resep pempek tapi susah sekali mencari waktu dan mood yang pas. Resep ini saya modifikasi dari resep pempek lily yang saya pakai sewaktu jualan dulu, disesuaikan dengan ketersediaan bahan yang ada di jepang. 

By the way, bikin pempek itu memang enaknya di palembang. Ikan gabus melimpah disana, pempek ikan gabus lebih putih dan gurih dibanding memakai tenggiri. Di jepang saya memakai ikan sawara. Hanya saja di lidah saya, rasanya lebih hanyir sehingga di resep ini saya menambahkan udang putih kupas. Terus gula merahnya palembang itu sudah dari sononya hitam dan kental, jadi bahan tambahan bisa diminimalkan. Terakhir, sagu tani asli susah banget dicari. Dibandung adanya tapioka/aci, di jepang adanya katakuriko. Walau katanya hampir sama, tetap saja bagi saya orang palembang, hasilnya beda. Alhamdulillah walau ga ada sagu, stok tapioka yang dibawa dari bandung masih ada walau terus menipis. Hihihi tapiokanya impor. Kesimpulannya bikin pempek di luar palembang itu terpaksa menurunkan standar cita rasa asli kalo saya bilang hehehe. Yaah lumayan deh daripada ga kecicip sama sekali. Ok, langsung saja, ini dia resepnya.

Resep Pempek

1kg ikan atau bisa dimix ikan, udang dan adonan terigu sesuai selera (saya pakai ikan sawara beku 400gr, udang putih 400gr, adonan terigu 200gr).
1kg tapioca atau katakuriko
6 butir telur (pisahkan kuning dan putihnya. putih telur untuk adonan ikan, kuning telur untuk isian kapal selam atau telur kecil
1 mangkuk air dingin
garam secukupnya
penyedap rasa secukupnya (optional)
merica secukupnya (optional)

Resep Cuka

350gr gula merah
500ml air
200gr gula pasir 
garam seujung sendok teh
10 siung bawang putih
cabe rawit sesuai selera
cuka dapur atau asam jawa sesuai selera

Pelengkap sajian:
irisan ketimun
mie kuning
udang kering

Cara membuat:

1. buat adonan terigu dengan mencampur terigu, garam dan merica. aduk rata. didihkan air panas, tuang sedikit sedikit ke dalam terigu. aduk sampai seluruh terigu tercampur   (lihat gambar). sisihkah, tunggu dingin. oh ya adonan terigu ini berfungsi sebagai pengganti ikan sehingga hasilnya nanti lebih banyak. selain itu penambahan terigu juga untuk memperlembut pempek.
adonan terigu yang sudah jadi
2. Pisahkan daging dan kulit ikan (kulit ikan dipakai untuk membuat pempek kulit). Giling daging ikan hingga lembut. campur ikan dan udang yang sudah digiling dengan putih telur. tambahkan garam dan merica secukupnya. masukkan semangkuk air, aduk rata. 
adonan ikan
3. masukkan adonan terigu ke dalam adonan ikan, uleni dgn tangan hingga kedua adonan menyatu. 
hasil mix adonan ikan dan terigu
4. siapkan air rebusan pempek. cukup banyak agar pempek terendam sempurna dan dapat mengapung sebagai tanda sudah matang. beri sedikit garam dan satu sendok minyak goreng agar pempek tidak lengket setelah direbus. didihkan.
5. campurkan tapioca sedikit demi sedikit. jangan diuleni sering sering karena adonan akan terus basah dan butuh lebih banyak tapioca. ini membuat pempek menjadi keras. cukup diaduk aduk saja. menguleni adonan hanya ketika membentuk pempek menjadi lenjer atau bentuk lain yang diinginkan.
6. bagi adonan menjadi 5, uleni sedikit. jika lengket beri tapioka permukaan luarnya saja. bentuk sesuai yang diinginkan. adonan ini sesuai untuk lenjer, keriting, kapal selam, telur kecil, pempek tahu, pempek kates.
7. rebus pempek hingga mengapung cukup lama dan permukaan pempek sedikit bertekstur. angkat dan tiriskan.
8. pempek siap dihidangkan bersama cuko atau bisa juga digoreng terlebih dahulu

Cara membuat cuko:
1. didihkan air, masukkan gula merah.  jangan terburu buru memasukkan gula sebelum mendidih, karena dapat menyebabkan rasa pahit.
2. masukkan gula putih secukupnya. fungsi gula putih untuk mengentalkan cuko. 
3. setelah gula tercampur rata, kecilkan api. campurkan bawang putih dan cabe rawit ke dalam cuko. aduk rata, matikan api. tambahkan asam jawa atau cuka dapur. aduk rata
4. cuko siap dihidangkan.

Trala, this is it. Pempek wong kito ala saya.Yummy...
pempek kapal selam ala lily
oh ya ada resep tambahan, kalau bosen dengan lenjer dan kapal selam, bisa coba aneka bentuk pempek lainnya.

tekwan : hampir sama idem atas, hanya saja tapioka sedikit saja sehingga adonan menjadi lembut dan basah seperti adonan bakso sapi.
pempek kulit : hampir sama idem atas, tetapi menggunakan 10 putih telur dan tapioka dikurangi hingga adonan menjadi sedikit lembut (kekenyalan diantara bahan tekwan dan bahan di atas)
pempek tunu : hampir sama idem atas, penggunaan terigu dan tapioka dikurangi, panggang di atas teflon tanpa minyak.
pempek adaan : tambahkan satu telur utuh, irisan bawang merah, sedikit santan. kurangi tapioka sehingga adonan cukup basah. goreng langsung tanpa proses merebus.

selamat mencoba!



Jumat, Agustus 07, 2015

Ibu ASI dan Postingan Dzolim

Coba sebut konflik yang melibatkan kaum hawa? Banyak bukan. Mulai dari ibu bekerja vs ibu rumah tangga, ibu asi vs ibu non asi, partus normal vs sectio dan minggu ini sedang ramai celebration of breastfeeding day vs no celebration. Lantas mengapa perseteruan yang tiada akhir ini muncul?

Mari bercerita dari sudut pandang saya. Saya ibu asi, ibu bekerja, ibu melahirkan normal dan ibu yang tidak merayakan breastfeeding day, lebih karena tidak tahu sih sebenernya huehehe. Eh tapi walau tahu juga saya rayakan dalam hati saja deh, hehehe ga jelasss ;) Saya ini termasuk ibu yang turut bergembira ria melihat postingan asi satu kulkas, melihat sertifikat asi dipajang dan berbagai status per asi an lainnya dari teman teman di media sosial. Saya pun termasuk golongan pemajang sertifikat asi dari ketiga anak saya. 

Tidak sedikit argumen bahwa postingan seperti ini 'dzolim' atau 'tiada manfaat'. Sulit memang berhusnudzon ria, terlebih pada posisi yang berseberangan dengan pilihan kita. Namun bagi saya, sungguh tidak ada niat takabur ataupun mendzolimi ibu ibu yang belum berhasil memberikan asi. Postingan itu justru memuat banyak hal yang ingin dibagikan, perjuangan, air mata, keluh kesah yang berbuah kegembiraan, hingga niat memotivasi adalah beberapa di antaranya. 

Sedikit kilas balik 9 tahun yang lalu, dimasa kehamilan pertama saya, dimana asi belum mendapat tempat seperti sekarang. Posisi sungguh berbalik. Kuatnya image susu formula  dan ketiadaan pengalaman dan pengetahuan yang cukup saat itu membuat perjuangan ber asi ria tidak mudah, dukungan keluarga minim, teman berbagi yang paham asi pun bisa dihitung dengan jari, dan terlebih saya bukan perempuan yang dianugerahi produksi asi berlebih. Setetes demi setetes saya belajar memerah asi. 10 ml, 20 ml, 30 ml, 50 dan seterusnya sampai saat itu produksi maksimal saya hanya 100 ml setiap kali memerah. Kejar setoran untuk kebutuhan harian Abhi saat itu. Tekanan akan kecukupan, hygienitas dan kualitas asi datang bertubi tubi. Air mata dan putus asa jangan ditanya seringnya tumpah. Saat harus kembali bekerja, sounding ke lingkungan kantor pun tak mudah. Menjadi satu satunya ibu yang memerah asi, berdiri di sudut tempat wudhu karena ketiadaan ruang pompa, mendapat tatapan aneh rekan rekan sekerja, keluarga dan tetangga, mendapat pertanyaan dan pernyataan yang sering memojokkan pun adalah hal lumrah. Dan saya saat itu belajar dengan cepat bahwa ketika memutuskan menjadi ibu asi maka saya harus bermental baja, menutup telinga dari segala komentar buruk, menutup mata dari segala pandangan sinis. Dengan tanpa malu meninggalkan rapat ketika waktu memompa tiba, masuk ke ruangan pak bos hanya untuk menitipkan asi di kulkas beliau, biasanya sih dikasih bonus ledekan sama si bos ;) nekad masuk pantry hotel demi hunting kulkas ketika meeting, blusukan cari ruang bersih untuk memompa di tempat tempat umum dan seterusnya. Hal yang kini mungkin cukup lumrah dan mudah tetapi di masa itu sungguh sungguh langka dan nampak aneh. Terkadang saya perlu extra menjelaskan sebelum mendapat izin. Terkadang ngotot walau tak sampai adu otot. Haduuh palembang banget sayaaah. Yaah intinya persis seperti tekanan ibu sufor saat ini bila berhadapan dengan ibu asi ^_^

Di masa inilah postingan 'dzolim' itu sangat bermanfaat bagi saya sendiri. Menatap pajangan stok susu, melihat kembali sertifikat itu, saya tahu harus terus bertahan hingga waktu menyapih tiba. Saya belajar mengapresiasi usaha saya, tanpa mengecilkan dukungan dari pihak lain tentunya, dari perolehan 10 ml hingga 250 ml, dari tangis jadi manis. Melihat success story ibu asi dengan perjuangan luar biasa disertai pajangan stoknya selalu menjadi motivasi saya berjuang saat itu. Pajangan 'dzolim' itu pula yang salah satunya membuat asi menjadi lumrah, diterima dan lambat laun semakin populer hingga saat ini. 

Maka, mari husnudzon saja melihat postingan itu karena di dalamnya memuat banyak kisah baik. As simple as that. Bila anda tidak termotivasi, mungkin ada ibu ibu di sana yang tergerak hatinya untuk lebih berusaha lagi ber asi ria. Ada bayi bayi yang terselamatkan ketika orangtuanya tak mampu membeli sufor. Saya pun akan berusaha menjaga husnudzon saya terhadap rekan, sahabat bahkan saudara saya yang belum mendapat kemudahan ber asi ria. Maafkan bila perhatian dan nasehat kami ibu asi ini nampak menjadi 'tekanan', 'paksaan' atau 'dorongan' berlebihan. Mari berhusnudzon bahwa itu hanya bentuk penyampaian saja yang tidak tepat. Singkirkan kesan merasa divonis, digurui, ambil ibrohnya untuk memperbaiki usaha selama ini.

Kepada ibu ibu pejuang asi, saya paham sepaham-pahamnya mengapa sebagian besar di antara kita ngotot. Karena kengototan inilah yang berbuah manis, yang membuat kita berhasil menyusui buah hati kita. Lepas dari beberapa ibu yang dianugerahi asi berlimpah, banyak pejuang asi yang harus tertatih dan berdarah darah demi suksesnya asi. Ya, sebagian besar ditempa kengototannya melalui proses itu. Namun kenyataannya, kengototan tak cukup merangkul para ibu di luar sana. Maka, mari berhusnudzon saja bahwa mereka telah mengeluarkan segala upaya untuk bisa ber asi ria walau akhirnya gagal. Doakan semoga mereka sukses di kesempatan selanjutnya.

Jadi teringat curahan hati seorang sahabat, "Memangnya susu formula itu racun? Memangnya kalau saya tidak bisa kasih asi, saya tidak sayang anak saya gitu?" Tersenyum saya mendengarnya. Sabar ya teman, I do know those feelings. Sama seperti kekesalan saya dulu terhadap cap buruk asi dan superioritasnya formula, "Memangnya asi perah itu basi? Memangnya kalau saya kasih asi artinya saya ga sayang anak, ga kasih nutrisi terbaik dari formula dengan segambreng AHA, DHA, bla blanya itu?" Semoga kekesalan, kemarahan menjadi energi lebih untuk berjuang memberi asi di kesempatan berikutnya. Semoga sifat husnudzon selalu menyertai kita semua. Amiin.

-dari yang masih belajar husnudzon-





Senin, Oktober 07, 2013

Sachi dan Gargantuar

Hari minggu kemarin belum genap seminggu papa meninggalkan kami ke negeri Sakura, tempat kelahiran Sachi, untuk kembali melanjutkan studinya. Neng Sachi adalah yang paling terpengaruh dengan berangkatnya papa. Kelihatan sekali setelah papa pergi, Sachi jadi lebih sensitif. Terkadang tiba-tiba menangis, kadang terdiam. Apalagi di hari-hari pertama ditinggal papa, tidur malamnya gelisah, sering terbangun dan menangis tersedu. Selain itu mendengar kata "papa" saja, air mukanya langsung berubah. Bibirnya membentuk garis lengkung ke bawah. Ah sedih sekali melihatnya.

Minggu pagi, Mama, Abhi, Sachi dan Samy seperti biasa ngariung di ruang tengah. Tidak ada agenda khusus hari itu. Kami hanya bersantai sambil ngobrol apa saja. Mama memangku Samy, sambil memperhatikan kakak Abhi dan Sachi yang sedang bermain lego. Sebenarnya dari pagi Sachi sudah bilang, bahwa ia ingin sekali menelpon papa. Tetapi karena internet rumah sedang problem, jadi terpaksa rencana skype-an pun gagal total. Alternatif lain via modem 3G kok ya putus sambung. Skype drop connection berkali-kali sampai akhirnya mama menyerah. Sachi menuruti penjelasan mama, walaupun nampak gurat kecewa di wajahnya. “Sabar ya neng, mudah-mudahan internetnya cepet bener ya.” Ia pun mengangguk kecewa.

Tak lama, Abhi bosan dengan legonya. Ia pun menuju laptop danmenyalakannya.
“Mama, aku main game boleh ya.” Aku mengangguk. 
“Sebentar saja ya kakak.”

Kuperhatikan Abhi memainkan games plant vs zombie. Game yang ia suka dahulu, tetapi akhir-akhir ini sudah lama sekali tidak ia mainkan lagi.Tiba-tiba Sachi mendekat.

“Kakak, Sachi mau Gantuay.”
“Ga bisa Chi” jawab Abhi sekenanya. Sachi mulai merengek.

“Kakak, coba dibantu dulu Sachi kepengen apa. Apa sih chi Gantuay itu?” tanya mama.
“Kakak… Gantuay.. Sachi mau Gantuay.. Sachi suka GANTUAY.” 

Kali ini Sachi setengah menjerit. Kembali ia merengek-rengek. Abhi mulai kesal.

“Apa sih Kak, Gantuay itu?”
“Itu lho mama maksud Sachi itu GARGANTUAR, itu nama zombie. Tapi ga bisa muncul otomatis. Kan sudah diatur gamesnya. Biasanya kalau zombienya sudah banyak, baru GARGANTUAR muncul.”

Belum sempat aku berkomentar, tiba-tiba Abhi berteriak.. “Chi…ini GARGANTUAR nya munculll. Sini Chi liatt cepeettt, ” Kak Abhi memanggil Sachi.

Jujur, aku tak begitu memperhatikan sosok si GARGANTUAR. Yang kulihat, Sachi sudah kembali tersenyum dan tampak senang memperhatikan Abhi bermain. Ya sudahlah pikirku. Fokusku kembali pada Samy.

Tapi tak lama kemudian, Sachi merengek-rengek lagi. Minta sosok Gargantuar kembali muncul. Kali ini ia mulai menangis menjerit-jerit. Mama bingung lalu menghampiri Sachi.

“Kenapa Sachi? Maaf ya. kata kakak, Gargantuarnya munculnya ga bisa otomatis. Sachi suka banget ya sama Gargantuar ?” tanyaku.
“Sachi suka Gantuay, Mama. Sachi suka. sukaa. Kayak Papa.”

Haaaah.. Apa hubungannya Gargantuar dengan Papa. Aku mulai penasaran. 
Masa iya sih ada Zombie mirip Papa. atau Papa mirip Zombie. xixixi..

“Kak Abhi, coba mana mama lihat Zombie GARGANTUAR. Apanya yang kayak Papa?” aku mendekat menghampiri Kak Abhi di depan laptopnya.

Daaaaan, mama pun diam. 
Aku terperangah melihat sosok si Zombie GARGANTUAR. 

Hoalaah Naak.... mama bingung ingin tersenyum atau menangis melihatnya. Sachi dengan air mata berderai di pipinya menghampiriku.

Tersedu-sedu ia berkata, “Mama, Sachi mau digendong Papa seperti itu lagi. Seperti Gantuay. Gantuay gendong anaknya. Tapi papa ga ada. Huwaaaaaa. Sachi mau telpon Papa, Maamaaa” jeritnya tambah kencang, kali ini ditambah pula drama guling-guling di matras.

Kupandangi sosok Gargantuar di laptop itu. Sosok Zombie besar yang tengah menggendong anak zombie di punggungnya. Pantas saja Gargantuar mengingatkan ia pada papanya. Gendong-gendongan seperti itu menjadi keseharian di rumah kami. Antara Sachi dan Papa, ya mereka memang sedang mesra-mesranya di minggu-minggu terakhir sebelum papa berangkat.




Segera kusimpan Samy sementara dimatras. Kuraih dan kupeluk anak gadisku. Kuciumi keningnya.

“Sini, mama aja ya yang gendong Sachi. Mama bisa juga kok jadi Gargantuar. ”

Air matanya masih berlinangan. Kudengar lirihan dari mulut kecilnya menyebut Papa. Kuseka air mata itu. Ah gadis kecilku, sabar ya Nak. Doakan, semoga kita bisa segera menyusul cinta pertamamu, papamu tersayang.

Paapaa, she misses u soooo much.

Rabu, Juli 31, 2013

Gombalan petang

WARNING: Sebagian pendengar dengan kadar telinga normal mendadak mual dan nyaris pingsan mendadak. Termasuk saya hahaha...
---------
Matahari telah terbenam di sudut malam. Petang tampak semakin jelas. Hampir saja mata ini terpejam terbuai sepoi-sepoi angin malam. Dalam perjalanan pulang kantor, percakapan sepasang ABG berseragam SMP di sebuah angkot yang tak sengaja terdengar olehku membuyarkan kantuk seketika.

Pr : Yang.. aku haus niiy
Lk : Tapi aku ga punya minum say, ga ada yg jual juga disini
Pr : Aahh ayang kok gitu, pokoknya aku hauuss..
Lk : Ya udh say, minum aja dari hatiku.. semuanya untukmu

Percakapan diakhiri dengan senyuman dua ABG di tengah sesaknya angkot malam itu. Dunia milik berdua, sampai lupa tempatnya.

Dunia oh dunia... %&*@$... BTW Emak jaman SMP dulu ngapain yak.. ooh iya inget, aku masih sibuk maen dakocan kayanya hahahaha. Hallooooo ABHI, SACHI, SAMY You've Got My Eye on You yaa Kids.. 

Kamis, Mei 23, 2013

Sharing Fototerapi Bayi Kuning di RS Al Islam Bandung


Sesuai janji saya sebelumnya, kali ini saya mau sharing pengalaman fototerapi di RS Al Islam Bandung untuk penanganan jaundice atau bayi lahir kuning. Bermula dari hasil cek bilirubin Samy di hari ke-7 setelah kelahirannya, bilirubinnya tinggi mencapai 17 mg/dl. Tidak mau gegabah dan overtreatment seperti pada Abhi dulu di RS lain, maka saya sangat berhati-hati dengan memeriksa table AAP untuk rekomendasi fototerapi. Sesuai tabel ini, dengan asumsi Samy memiliki faktor resiko (kondisi ABO Incompatibility dimana gol darah saya O, sementara Samy B), maka hasil bilirubin 17mg/dl itu sudah berada di batas atas/maksimum antara dapat diberikan fototerapi dan belum perlu fototerapi. Deg.. gundahlah emaknyaa, sinar jangan ya Alloh..

Berat bagi saya memutuskan ini, walau sejatinya fototerapi itu sendiri belum diketahui menimbulkan efek negatif bagi bayi, namun efek psikologis bagi ibu yang baru saja melahirkan akan sangat besar. Dengan kondisi fisik yang belum pulih sepenuhnya, harus berpisah dengan bayi, harus mensupply ASI dengan jumlah yang lebih besar (karena sinar membutuhkan cairan lebih) sementara tidak semua ibu memproduksi ASI dengan lancar. Kondisi ini tidak sekali dua kali membuat ASIX gagal diwujudkan. Lagipula saya tidak mau overtreatment pada anak saya, seminim apapun efek sampingnya.

Singkat cerita setelah mengobservasi behaviour Samy dan mempertimbangkan segala faktor, akhirnya saya putuskan diberikan fototerapi. 



Daaan surprisingly, pengalaman fototerapi kali ini jauh lebih mudah dibanding pengalaman sebelumnya. Alhamdulillah. Saya coba list ya kemudahannya.

(+) Detail fototerapi diberikan dengan jelas. Paramedis mampu memberikan penjelasan cukup lengkap mengenai rencana terapi yang diberikan, sinar 1 lampu saja, periode 2x24 jam kecuali istirahat menyusui, ambil darah setiap 2x24 jam.

(+) Dalam kondisi fototerapi, rumah sakit tetap mendukung ASIX. Paramedis membantu meyakinkan ibu melalui sugesti kecukupan ASI, membantu mengajarkan memijat payudara, cara memerah ASI, dan mengizinkan menyusui langsung.

Bagi saya hal ini LUAR BIASA. Karena pengalaman yang sudah-sudah di RS lain, Ibu lebih ‘ditekan’ untuk memberikan tambahan cairan tanpa dukungan upaya lebih dari pihak rumah sakit. Terlebih dengan boleh disusui langsung walaupun katanya dapat memperlambat penurunan kadar bilirubin namun adanya kemudahan ini dapat menjadi alternatif solusi bagi ibu-ibu yang kesulitan memompa atau memiliki stok asi terbatas. Alhamdulillah kemarin beberapa rekan seperjuangan yang menyusui langsung, penurunan kadar bilirubin bayinya semua terbilang cepat, 2x24jam sudah diperbolehkan pulang. Artinya solusi menyusui langsung sesuai jadwal untuk kondisi hiperbilirubin seharusnya tidak perlu dipermasalahkan.

(+) Tersedia ruang menyusui sekaligus ruang pompa ASI. Jadi saya serasa punya basecamp baru ^_^. Ruang ini letaknya persis disamping ruang fototerapi. Jadi biasanya jika jam menyusui tiba, akan banyak ibu -ibu senasib seperjuangan menunggu giliran menyusui disini atau bersama-sama memerah ASI untuk stok cadangan. Disini kami biasa berbagi beban, saling menguatkan dan saling berbagi tips memperbanyak asi, cara memompa dan tentunya saling mendoakan bayi satu sama lain.

Lagi-lagi bagi saya ini LUAR BIASA. Teringat dulu saya hanya sendiri memompa ASI di RS lain itu dimana ruang menyusuinya terpisah dengan tempat Abhi disinar. Menelan resah dan duka sendiri. Well, walaupun fototerapi bukan suatu penyakit yang berat, namun bagi seorang ibu yang baru melahirkan, anak pertama pula, berpisah dengan buah hati tercinta itu cukup menjadi beban sendiri. Yang bisa membuat air mata mengalir begitu saja. Belum lagi jika kondisi ASI belum banyak yang biasanya karena ketidaktahuan ibu, kurang pengalaman memompa, panik dan tekanan harus menyediakan cairan lebih banyak. Dulu semua sendiri, sekarang ada ruang untuk berbagi. Disini juga saya bertemu seorang ibu yang kesulitan memompa ASI, tiap memompa tampak iba melihatnya penuh deraian air mata. Ternyata putra tertuanya baru saja berpulang ke Sang Pencipta, dan lahirnya bayi kedua ini seperti menjadi pengganti putranya itu. Tatkala si bayi harus disinar dan berpisah darinya, ada rasa trauma takut kehilangan yang begitu besar dalam diri sang ibu. Dengan berbagi beban di ruang inilah semua menjadi ringan. Para ibu dapat saling melepas beban, sementara yang lain menguatkan. Juga jadi ingat saat satu diantara anak-anak kami diperbolehkan pulang, semua ibu di ruangan itu akan spontan mengucap hamdalah dan berebut memberikan selamat. Rasanya senang bagi satu menjadi bahagia pula bagi yang lain. Adanya ruang ASI RS Al Islam itu terasa sekali manfaatnya.

(+) Waktu kunjungan bebas +- 10 menit per kunjungan. Memudahkan para ayah juga turut melihat kondisi bayinya dan memudahkan kami melepas kangen pada ananda tercinta.

Biasanya para ibu disini kebanyakan memilih untuk menyusui bayinya secara langsung setiap 2-3 jam sekali. Mungkin karena tak kuasa berpisah dengan bayi tercinta yaa. Saya sendiri memilih berada di RS untuk menyusui langsung dari pukul 9 pagi hingga 9 malam. Lepas itu saya memilih pulang dan memompa ASI di rumah. Hasil pompa dibawa ke rumah sakit untuk diberikan malam berikutnya. Namun, tidak sedikit lho ibu-ibu yang memilih menginap di rumah sakit demi menyesuaikan jadwal menyusui langsung. Sebagian menginap di ruang tunggu, dekat dengan ruang kebidanan dan ICU. Namun karena sering penuh dan kenyamanan kurang, sebagian lain memilih tidur di mobil. 24 jam penuh di rumah sakit selama beberapa hari. Luar biasa pengorbanan dan kesadaran ibu-ibu ini akan ASI. Tengah malam jam 1, jam 3 dini hari pun dilakoni menyambangi ruang menyusui bertemu bayi tercinta.

(+) Komunikasi antara paramedis dengan orang tua bayi intens. Mulai dari kondisi bayi, jumlah susu per sekali minum, kapan perlu stok asi lagi, semua diinformasikan. Oh ya untuk keperluan ASI ini, kami bahkan diharuskan meninggalkan nomor kontak yang bisa dihubungi kepada tim paramedis. Jika nantinya waktu menyusui tiba sementara si ibu tidak ada, maka paramedis disini akan proaktif menghubungi ibu ke nomor kontak tersebut untuk mengingatkan. Beberapa rekan yang menginap di rumah sakit, seringkali tertidur khususnya untuk jam menyusui pada jam 1-3 dinihari. Jadi telpon dari paramedis ini amat sangat membantu. Juga jika stok asi mendekati habis, paramedis akan segera proaktif memberitahukan ke orang tua supaya secepatnya mengirimkan stok asi ke rumah sakit.

Kesimpulannya, dukungan rumah sakit dan paramedis untuk keberhasilan ASIX itu sangat tinggi. Dan di RS Al Islam ini saya sangat merasakan benar adanya dukungan itu.Thanks to all.

Bunda Qila, Mama Fathir, Mama Daniel, Mama Alesha, Mama Almer, dan para bunda yang belum disebutkan namanya, terima kasih atas persahabatannya. Walau sesaat insya Alloh berkesan J  

Oh ya, anakku samy pada akhirnya diperbolehkan pulang selepas 2x24 jam mendapat fototerapi. Bilirubinnya turun dari 17mg/dl menjadi 8.34mg/dl, alhamdulillah.

Review Melahirkan di RS Al Islam Bandung


Kali ini mau menulis sekaligus sharing pengalaman melahirkan di RS Al Islam Bandung. Oh ya sebelumnya sempat maju mundur juga untuk melahirkan di RS Al Islam, selain karena review yang ada sangat sedikit dan kurang informatif tapi juga karena beberapa kali pengalaman ke klinik disana seperti gigi, umum, anak hingga termasuk rawat inap sedikit kurang menyenangkan. Baru pada bulan ke 8 mengandung Samy, dengan mempertimbangkan faktor lokasi RS Al Islam yang jaraknya hanya 5 menit dari rumahku, kemudahan untuk bolak balik rumah – RS untuk suami yg nantinya harus mendampingiku termasuk menjaga anak-anak di rumah, sudah ada pengalaman melahirkan sebelumnya (ini partus ke-3), maka bismillah diputuskan untuk memilih RS Al Islam Bandung sebagai tempat kelahiran Samy.

Kontrol Kandungan

(+) Biaya kontrol relatif murah (Rp.25rb daftar, Rp 45rb periksa Obgyn +usg nonprint)
(+) Ada praktik sore, bagi yang tidak mau antri dan tidak memilih dokter sebaiknya  mempertimbangkan jadwal praktik sore, ada dokter perempuan juga kok dengan dr. Annisa. Masih muda memang, namun cukup detail menjelaskan hasil USG dan telaten mendengarkan keluhan pasien.

(-) Antrian panjang, untuk dr Delle khususnya. Antri ambil nomor dan antri menunggu giliran periksa sama panjangnya.
(-) Privasi kurang (sekali masuk 2-3 orang, terkesan tergesa-gesa)
(-) USG ga bisa diprint (kalau mau print, harus usg di lab yang ada di RS Al Islam juga. Nanti hasilnya dibawa ke dsog baru dibacakan. Ribet yaaa..)

Melahirkan

(+) Sangat mendukung ASI Eksklusif, IMD dan Rooming in. Ini point yang paling penting bagi saya sehingga memilih melahirkan disini. Label RS Al Islam sebagai Rumah Sakit Sayang Ibu Bayi (tingkat nasional ato jabar ya.. lupa) memang terbukti dan sangat terasa sekali disini. Alhamdulillah berhasil IMD dengan sempurna selama 3 jam penuh berdua adik bayi. Sempurna disini karena sesuai tata cara IMD yang seharusnya, tidak hanya ditempelkan begitu saja di puting susu Ibu dengan waktu yang dibatasi, syaratnya tentu saja selama kondisi Ibu dan bayi sehat ya.
(+) Penanganan cepat dan didahulukan, administrasi dapat diurus belakangan.
(+) Bidannya sabar, telaten dan cekatan (Peluk Bidan Nia, makasih ya Bu. Bu bidan ini sangat membantu menenangkan ibu, mengusap-usap saat kontraksi, cekatan membantu proses persalinan. Top deh, hampir sama telatennya dengan Bidan Yobuki di Hiroshima Jepang yang membantu persalinan Sachi dulu)
(+) Sangat islami, menjelang melahirkan dan setelah melahirkan Ibu selalu dituntun tak lepas dari doa. Adik bayi juga didoakan. Oh ya di Al Islam ini bahkan setiap pergantian shift perawat selalu diawali dengan lantunan asmaul husna dan tilawah lhoo…
(+) Biaya melahirkan relatif murah. Dari pricelist yang tertera di kasir, perkiraan biaya lahir normal dengan bantuan Dokter untuk 3 hari di kelas VIP/Utama adalah di kisaran 8jt. Namun di lembar penagihan saat keluar rumah sakit, biaya di kisaran 5-6jt saja, dengan waktu rawat 2 hari. Oh ya di Al Islam ini selama ibu dalam kondisi baik, hari ini melahirkan, besok sudah diperbolehkan pulang ^_^

(-) Ruang observasi dan ruang bersalin ‘kurang’ modern. Masih ala rumah sakit jaman dulu rasanya. Tapi dengan penanganan yang maksimal, soal tampilan ruang jadi tidak masalah. Tapi bagi yang kurang nyaman, mungkin bisa dipertimbangkan kembali. Oh ya untuk ruang rawat, saya di Ruang Utama (hanya ada 1 saja kamar utama dipoli kebidanan, jadi siapa cepat dia dapat. And I am sooo lucky to get this room as soon as delivery). Ruang Utama ini menurut saya sudah cukup nyaman, walaupun pastinya beda dibanding RS Her**** atau RS San****.  Ruang Utama 1 Kamar 1 pasien, dilengkapi AC, air panas, TV dan Sofa Bed. Makanan standar, tapi abis terus tuh sama saya hehehe.

Oh ya ini ada penampakan dari Ruang Utama Kebidanan di RS Al Islam Bandung : 





(-) Imunisasi HEP-B tidak bisa langsung diberikan segera setelah lahir, karena sistem di RS Al islam ini, imunisasi dilakukan di poli anak pada waktu kontrol pertama. Hmm sedikit kurang puas.
(-) Ada larangan untuk anak di bawah 12 tahun menjenguk. Satpamnya cukup ketat menjaga aturan ini. Awalnya sempat ragu memilih RS ini salah satunya karena faktor ini, karena kakak-kakaknya dede bayi sudah wanti-wanti ingin menjenguk ke RS saat lahiran nanti. Kemarin anak-anak berhasil menjenguk ke ruang rawat, caranya  dengan bilang ke satpam kalau kita dirawat di kamar utama/VIP yang hanya untuk 1 pasien, jadi tidak akan mengganggu pasien lain dan juga mengurangi resiko anak kita tertular penyakit dari pasien lain. Cara ini pernah berhasil, pernah juga tidak. Bila tidak berhasil di satpam bawah, coba pilih jalur memutar melewati ruang VIP umum (bukan khusus kebidanan). Namun yang perlu dipertimbangkan adalah resiko terpapar virus anak anak saat menjenguk. 


 wajah-wajah bahagia berhasil nengok adik dan mama ^_^


Kesimpulan, So far saya yang sebelumnya sering tidak puas dengan pelayanan RS Al Islam di poli lain, namun kali ini khusus di Poli Kebidanan (melahirkan) saya sangat puas dengan pelayanan dari RS Al Islam Bandung karena impian saya untuk bisa full IMD, rooming-in, ASIX dan pastinya partus normal semua terpenuhi. Alhamdulillah insya Alloh pilihan saya melahirkan disini sudah sangat tepat. So, ibu-ibu jangan ragu lagi ya kalau mau bersalin disini. Ohya cerita lain mengenai pengalaman fototerapi di RSAI untuk penangana Jaundice (Bayi Kuning) akan saya share next ya..

Oh iya sampai lupa posting foto si bayi Samy hehehe




Sabtu, Februari 16, 2013

Welcome, Samy

 

Panggil ia Samy. Lahir di RS Al Islam Bandung melalui proses persalinan normal di sabtu siang 16 Februari 2013 pukul 12.24 WIB dengan berat lahir 3040 gram dan tinggi 49 cm. Proses kelahiran Samy  terbilang berjalan lancar. Mama dan Samy sehat dan Alhamdulillah tidak kekurangan suatu apapun.

Mama dan Papa sepakat memilihkan 'Juang Samudra Bintang' sebagai nama untukmu, Samy.

***

JUANG

Nama sederhana dengan arti yang sangat dalam. Karena hakikat hidup seluruh insan di dunia, tak peduli ia berpunya ataupun tak ada, tua ataupun muda adalah sama, berusaha berjuang meraih apa-apa yang menjadi ridhoNya. Juang bagi kami nama itu sangat lelaki. Di dalamnya ada makna kekuatan, ketangguhan dan semangat, seperti harapan kami pada Samy.

SAMUDRA

Samudra adalah lautan luas, besar. Samudra itu ciptaanNya yang indah sekaligus kokoh. Semoga sang pejuang kami nantinya memiliki ketulusan hati yang maha luas selaksa samudra, berjiwa besar, kokoh dan sekaligus indah. Samy sendiri diambil sebagai kependekan dari kata Samudra.

BINTANG

Seperti makna bintang, Samy hadir sebagai cahaya yang melengkapi keluarga kami. Kelak berharap Samy selalu mampu menghadirkan seberkas cahaya indah di antara kegelapan, memberi terang dalam kesulitan, membawa kebahagiaan dan kehangatan, bagi kami, bagi orang-orang di sekitarnya dan bagi ummat tentunya.

 ***

Maka, Juang Samudra Bintang namamu Nak. Nama yang akhirnya kami sepakati di detik-detik akhir menjelang kelahiranmu. Nama yang kelak mengingatkan kedua orang tuamu akan riwayat mengandungmu yang tak mudah. Tapi kita berdua menang ya Nak. Alhamdulillah engkau kuat, sehat dan sempurna, ksatria pejuangku.

Maka, Juang Samudra Bintang namamu Nak. Orang bebas memanggilmu Juang, Samudra ataupun Bintang. Tapi biarkan mama dan papa memanggilmu Samy. Tidak hanya agar panggilanmu berakhiran –i atau –y seperti mama Lily, papa Adi, Kakak Abhi dan Ayuk Sachi, tapi lebih dari itu. Sami atau Samy dalam bahasa arab bermakna supreme. Berharap engkau menjadi insan yang memiliki kedudukan tinggi di hadapanNya.

Maka, Juang Samudra Bintang namamu Nak. Nama yang sangat Indonesia ini kami pilihkan sebagai untaian doa kami padaNya. Karena lahirmu telah menghadirkan lautan bintang di hati kami, bahagia dan sempurna. Papa Adi bilang, keluarga kami sudah dianugerahi Matahari, Bulan dan Bintang. Abhi ibarat matahari penyemangat kami, Sachi sang bulan penyejuk hati dan Samy sang bintang penyempurna. Lengkap sudah. Semoga Allah memberkahi kalian selalu ya Nak.

Then, here he is. Juang Samudra Bintang aka Samy