Minggu-minggu ini sungguh berat sekali bagiku dan suami, berat menghadapi kakak abhi yang akhirnya berontak. Kakakku yang santun, kakak yang penurut, kakak yang baik hati dan penyayang, akhir-akhir ini mulai menunjukkan sikap berontak. Entahlah, aku tidak mengerti apakah memang karena faktor kewajaran di usianya yang sekarang ini, atau karena kehadiran adik bayi yang membuatnya mencari perhatian kami, atau karena pengaruh teman-teman sepermainannya di rumah atau di sekolah, atau karena didikan kami yang salah. Entahlah.. pikiran dan hatiku saat ini penuh dengan tanda tanya. Perasaan bersalah, menyalahkan diriku sendiri kerap hadir. Apakah didikanku salah ya Tuhan, mengapa kakak tiba-tiba berubah. Apakah aku orang tuanya memberinya contoh yang buruk, yang mungkin secara tak sadar sudah kulakukan. Bukankah anak seusianya adalah peniru ulung, yang kerap meniru lingkungan sekitarnya. Lantas meniru akukah dia. Bersalah, sedih dan putus asa adalah perasaanku saat ini.
Yah.. hari itu air mataku tumpah. Tumpah menghadapi semua tingkah lakunya. Kesabaranku luluh di tangan sebuah amarah yang tak mungkin kusalurkan padanya. Pagi itu dimulai dengan pemberontakan kakak yang tidak mau berangkat ke sekolah. Penolakannya frontal, ia meronta saat kuraih tangannya untuk mengantarnya ke sekolah seperti biasanya. Guling, mengaitkan tangan atau kakinya di tiang, hingga melepas paksa genggamanku kemudian berlari pulang adalah sekian banyak tingkahnya. Aku paham, di usia sedini kakak, sekolah bukanlah utama. Dunianya sewajarnya dipenuhi oleh permainan. Namun kuakui kondisi saat ini dimana aku harus fokus mengurus si kecil, aku tidak bisa mengisi hari-hari kakak dengan berbagai permainan dan pelajaran bersama sebanyak dulu, sewaktu belum hadir neng sachi. Dulu, bila kakak ingin bermain bola, bermain lempar-lemparan di luar, memanjat pohon, aku selalu bisa mendampinginya kapanpun ia mau. Bermain bersama. Namun kini, tangisan neng sachi kerap menghalangi keinginannya. Dahulu kerap kami belajar bersama, olahraga bersama, sayang-sayangan berdua. Kini, tanpa sekolah, kakak akan menghabiskan waktu di depan laptop di saat aku sibuk mengurusi neng sachi. Aku tidak ingin itu Tuhan. Laptop dan internet kuyakini bukan pendidikan yang baik baginya, bukan untuk saat ini. Atau kerap ia menirukan anak-anak tetangga kami bermain di jalanan, yang tentunya membahayakannya. Untuk itu aku merelakannya sekolah di belakang apato kami, agar ia mendapatkan teman bermain sebayanya, bermain sesuatu yang bermanfaat bagi fisik, motorik dan kepribadiannya, mengisi hari-harinya dengan yang lebih baik. Walaupun aku tau kebersamaanku dengannya akan sedikit berkurang, tapi itu lebih baik untuknya. Sejauh ini kulihat materi disekolah untuk abhi bukanlah belajar serius, melainkan belajar sambil bermain. Bermain siram-siraman air, meniup gelembung sabun, sobek-sobekan kertas atau yang paling serius puzzle. Kemudian ia akan makan siang, tidur siang, sikat gigi, makan snack dan minum susu bersama. Lantas mendengarkan cerita dari buku yang dibacakan sensei, baru ditutup menonton film kartun anak-anak. Entah, hanya menurutku materi itu adalah belajar yang sangat cocok untuknya, isinya bermain bermain bermain dan belajar. Apalagi efektifnya kakak sekolah hanya 3 jam saja sehari. Gundah gulana, itulah yang kurasakan setiap kali harus menghadapi penolakannya ke sekolah.
Dan, tidak cukup dengan rontaannya ke sekolah. Di rumah pun ia sama saja. Kadang ia mulai berteriak atau melempari mainan-mainannya dengan kasar bila keinginannya tidak kami turuti. PAdahal dulu, kakak tidak pernah rewel tiap kali keinginannya tidak bisa kami penuhi. "Tak apa-apa ma" kata kakak biasanya. Tapi kini, dengan wajah manyun, kedua tangan dilipat didepan dada, ia akan menatap kami dengan tajam menunjukkan ketidaksukaannya saat keinginannya kami tolak. Atau terkadang ia membanting pintu kamar dengan keras berulang kali hingga membuat sachi menangis. Kerap pula ia memancing amarahku dengan menendangi kakiku. Tatkala aku larang, ia mengulangi lagi sambil menatap mataku seolah ingin melihat reaksiku atas kenakalannya. Kesabaran.. yah itulah yang sangat kami butuhkan saat ini.
Sore kemarin, ia memaksa bermain di luar. Aku yang belum mengenakan kerudung dan baju panjang tentu saja tergopoh-gopoh. Sambil menggendong sachi, aku berusaha mengawasinya bermain dari balik jendela kamar. Aku tidak bisa melepas anak bermain sendiri di luar, tidak.. itu bukanlah kebiasaanku. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti arti bahaya. Dan saat maghrib tibatatkala suamiku pulang dari kampus, ia masih bermain di luar. Suamiku mengajaknya pulang karena matahari mulai terbenam pertanda hari mulai malam. Dan apa jawabnya “Tidak Mau”. Lantas suamiku bertanya kembali,” mau pulang sekarang atau mau tidur di luar saja?”. Dan kakakku menjawab,”mau tidur di luar saja.” Yapp itu pilihannya. Kami membiarkannya menjalankan pilihannya itu sambil mondar mandir mengawasinya dari jauh. Pukul 8 malam, akhirnya ia pulang sendiri. Bunyi bel ditekan berulang-ulang. Ia mulai memanggil papa dari depan pintu rumah. Kami sepakat untuk menunggu sebentar untuk memberinya pelajaran akan makna konsekuensi. Namun ternyata tingkahnya semakin menjadi. Tak cukup berteriak, kakak juga menendangi pintu. Tatkala papa keluar berusaha untuk membujuknya, that’s it. Kakak memukul papa. Suamiku mulai terpancing emosinya. Menghadapi dua lelakiku yang sama-sama panas, aku harus maju menengahi. Yah begitulah. Malam ini aku dan papanya memberinya hukuman yang mungkin baginya sangat menyiksa, mengacuhkannya. Aku tak berkata-kata apapun merespon celotehnya padaku. Tangisan kakak menjadi, ia merayuku agar memaafkannya. Kami akhirnya memaafkannya, namun sesuai pilihannya untuk tidur di luar, malam ini kakak tidur di ruang depan, tidak di kamar kami. Kutemani ia hingga tertidur. Nampaknya ia mengerti akibat perbuatannya. Malam saat ia pulas, kupindahkan kakak kembali ke kamar. Kuusap wajahnya yang pulas. Ah nak, mengapa? Apa yang mengubahmu? Mama dan Papa sungguh menyayangimu. Kucium ia berulang kali. Maafkan ya sayang, bila mama dan papa terlalu keras padamu. Entahlah.. mungkin ini adalah bagian dari ketidaksiapan kami menghadapi tumbuh kembangnya yang tidak selalu positif di mata orang tuanya.
Dan hari ini pun kakak masih berontak walaupun sudah tidak terlalu frontal dibanding minggu lalu. Berulang kali meminta maaf dan diulang kembali. Kini sabar sabar dan sabar, sangat sangat kami butuhkan. Aku yakin setiap orang tua pasti melalui fasa ini. Bukankah melalui anak orang tua belajar menjadi orang tua yang sesungguhnya. Terlebih anak pertama, dialah yang mengajari orang tua bagaimana menemukan pola pengajaran bagi anak. Yang tanpa kami sadari, beban kakak sendiri mungkin sudah berat. Menghadapi lingkungan baru di jepang, memiliki adik baru, menghadapi teman-teman baru dengan karakter yang tak selalu positif. Sama beratnya juga untuk kami orang tuanya, tapi bukankah masih panjang jalan ke depan, ketika ia beranjak dewasa, dengan ganasnya lingkungan di luar sana. Pengaruh pergaulan bebas, rokok, dugem, narkoba dan masih banyak hal-hal berat yang harus dihadapinya. Yahhh ini belum apa-apa. Masih begitu besar kesempatan bagiku dan papa untuk membentuk pondasi karakternya, agar ia tahan tempaan dari pengaruh buruk nantinya. Bismillah.. Aku sangat percaya kakak sesungguhnya memiliki karakter yang baik, semua akan baik-baik saja. This too shall pass. Semangatttt :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar